WanHart Blog

November 28, 2007

Mengapa banyak pelatihan (training) yang tidak efektif? Why some training did not work?

Filed under: Business,Consulting,Pelatihan — Admin @ 09:07
Tags: , , , ,

Teori lahir dari praktek dan praktek lahir dari teori.

Banyak pelatihan (training) yang tidak efektif karena dilakukan berdasarkan teori semata. Pelatih (trainer/instructor) yang kredibel akan membagi pengalaman mereka dalam bekerja dan kehidupan sehari hari-hari yang relevan dengan materi yang disampaikan. Karena banyaknya pengalaman dalam melakukan kegiatan (aktifitas) maka Pelatih (trainer/instructor) dapat meng-ilustrasikan pengalamannya berdasarkan apa yang ia alami.

Tanpa banyaknya contoh contoh yang relevan dengan dunia usaha ataupun kegiatan yang riil, maka pelatihan (training) akan menjadi tidak efektif; tidak membumi dan tidak berkesan.

Ditambah lagi dengan persoalan kultur budaya Indonesia yang ‘sopan’. Pada umumnya orang Indonesia tidak serta merta spontan dalam berkomentar di depan umum dalam merespon sesuatu. Kultur ini juga yang menjadi masalah dalam pelatihan; tidak adanya koreksi yang spontan dari peserta dapat membuat orang kehilangan arah (misleading).

Dalam program pelatihan (training), adalah tanggung jawab semua pihak untuk mengerti dan mengamati penyimpangan penyimpangan fakta maupun pendapat. Peserta yang aktif dan spontan dalam merespon semua yang diberikan seringkali di ‘cap’ sebagai orang yang ‘sok pintar’ atau ‘pengacau’ (trouble maker) di dalam kultur Indonesia. Padahal di kultur barat, sikap resposif yang spontan inilah yang menjadi kekuatan struktur social, dan orang orang yang spontan dan responsif dalam men-sikapi suatu hal menjadi pemimpin (leader) dalam lingkungannya.

Pelatihan yang efektif harus memicu spontanitas dan respon dari pada peserta, tapi bagaimana memicu kultur budaya ‘sopan’ yang terjadi pada sesi pelatihan (training session)?

Seorang pelatih (trainer/instructor) harus dapat membuat suasana santai, nyaman dan bersahabat. Suasana seperti inilah yang akan mengembangkan dan meningkatkan dinamika kelompok (group dynamic) dan menjadikan pelatihan (training) menjadi efektif dan berkesan.

1 Comment »

  1. satu hal yang saya ingat dalam tes diagnosis industri dan klinis adalah perbedaan making raport yang diandaikan seperti bumi dan langit. dalam setting klinis tentu prioritas utama adalah making raport yang baik sehingga klien sangat percaya dan tidak lagi melakukan defence mekanisme. sedang dalam seting industri make raport tidak lagi dijadikan prioritas entah karena efisiensi waktu dan sebagainya.
    tidak ada alasan bagi seorang pemimpin bagaimanapun keadaan negaranya maka dia yang harus bertanggung jawab, karena disitulah seni dalam memimpin. begitupun dalam training. bagi saya seorang trainer harus juga memiliki mental leader(pemimpin)untuk menghasilkan sebuah training yang memuaskan berapapun jumlah peserta yang hadir. ingat Ir. Soekarno ketika melakukan pidato negara di lapangan dan bisa membakar seluruh orang yang hadir saat itu.
    maka hal yang harus dilakukan pertama kali oleh seorang trainer adalah menumbuhkan jiwa kepemimpinannya, dan itu bisa dimulai dari memimpin diri sendiri.

    Comment by pandi merdeka — November 30, 2007 @ 08:21 | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: