WanHart Blog

March 20, 2008

KATSUKI: Fast Food ala Jepang

e90image138.jpg

Bermula dari usaha kecil kecilan, Pak Feri, pemilik kedai KATSUKI yang bertempat di Kedoya Food Park, Taman Kedoya Baru, Jakarta Barat, berkata: “Tempat boleh kecil, tapi tongkrongan dan kualitas kelas dunia”.

Dengan keberanian, perhitungan yang matang, rasa yang enak dan kualitas pelayanan yang baik, KATSUKI telah cukup dikenal dan memiliki pelanggan yang cukup besar. Pak Feri telah manyulap tempat 3 x 5 meter menjadi tempat yang menarik perhatian pengunjung Kedoya Food Park.

Hidangan yang di sajikan oleh KATSUKI ini adalah makanan cepat saji ala Jepang dengan menu yang menarik dan harga yang terjangkau. KATSUKI menu adalah sebagai berikut:

  1. EbiFurai Rp 17.000
  2. Chicken Katsu Rp 14.000
  3. Sea Food Suki Rp 21.000
  4. Chicken Suki + Nasi Rp 17.000
  5. Beef Suki Rp 19.000
  6. Ebi Noodle Rp 13.000
  7. Beef Teriyaki Rp 16.000
  8. Meat Ball Suki + Nasi Rp 12.000

Jika anda sedang ada di area Jakarta Barat, silahkan mampir ke Kedoya Food Park, Taman Kedoya Baru dan coba makanan cepat saji ala Jepang, KATSUKI. Kedoya Food Park buka 7 hari seminggu dari 18:00 sampai dengan 22:30.

====

Informasi mengenai franchise (waralaba) KATSUKI adalah sebagai berikut:

Franchise Fee (per 2 tahun) Rp14.000/Hari Rp 420.000/Bulan Rp 5.000.000/Tahun
Franchise Royalty 2,5% dari omzet bulanan
Hubungi +62 21 3214 7000 atau email ke franchise@WanHart.com

Apa yang sebenarnya pelanggan butuhkan. What the customer really needed.

Filed under: consultant,customer,market,Marketing,pelanggan,Pemasaran — Admin @ 08:06

project-management-humor1.gif

Tidak ada hal yang baru di bawah Matahari. There is nothing new under the Sun.

Seseorang meng-email saya dan bertanya seperti dibawah ini:

Globalisasi mendorong setiap perusahaan untuk terus berjuang mempertahankan eksistensinya. Agar dapat terus bertahan maka tiap perusahaan berlomba-lomba terus mencari solusi baru dalam menarik minat konsumen. Selain itu perusahaan juga dituntut untuk terus melakukan perubahan baik secara internal dalam perusahaannya juga secara eksternal melalui produk-produk dan jasa-jasa yang ditawarkan.

Banyak perusahaan sering menyebut dirinya melakukan perubahan ialah dengan berinovasi. Ada 2 jenis inovasi yang sering disebut, yaitu Incremental innovation dan radical innovation. Menurut Allan Afuah, radical inovasi ialah kemampuan untuk menghancurkan, sedangkan incremental inovasi ialah kemampuan yang meningkatkan.

Salah satu perusahaan yang melakukan inovasi ialah blitzmegaplex yang mengklaim dirinya sebagai ‘bioskop terbesar di indonesia’. Blitzmegaplex muncul sebagai penantang pasar dari bioskop yang telah lama eksis yaitu cineplex 21. menurut anda, apakah inovasi yang dialukan oleh blitzmegaplex merupakan radical innovation atau incremental innovation?

Jika and berada di Afghanistan sekarang atau beberapa tahun lalu, jika ada seseorang yang membangun bioskop, itu akan menjadi satu satunya bioskop setelah pemerintahan Taliban berakhir. Banyak orang Afganistan yang akan berdecak kagum, bahkan akan banyak pula yang akan berkata di alam kagumnya ,”Ini baru inovasi”. Masa sih?

Keberadaan bioksop di Afghanistan ataupun seperti keberadaan BlitzMegaPlex di Indonesia bukanlah hasil dari innovasi, apalagi merupakan hal yang baru. Keberadaan megaplex sudah banyak di negara negara lain. Tidak ada hal yang baru dibawah matahai (there is nothing new under the sun). Sekali lagi, keberadaan BlitzMegaPlex di Indonesia bukanlah hasil dari innovasi, melainkan hasil (buah) dari pada keterbukaan dan reformasi dari pada suatu monopoli yang telah dilakukan oleh 21 cineplex selama berpuluh tahun. Tidak ada suatu hal baru yang dilakukan oleh BlitzMegaPlex dalam hal ini, dan oleh karena itu saya tidak menganggap hal ini sebagai innovasi, melainkan pembaharuan, keterbukaan pasar dari pada pasar tertutup (monopoli).

Jika Aqua menjadi lebih mapan dan besar di pasar setelah Ades berada di pasar, dan jika keberadaan Apple MacOS menjadi pacuan dari pada programmer dan designer Microsoft Windows, maka keberadaan BlitzMegaPlex akan menjadikan persaingan hiburan layar lebar menjadi sehat. Dengan adanya persaingan dari BlitzMegaPlex ini, saya telah melihat 21 Cineplex berbenah diri dengan membangun Studio XXI yang menurut saya jauh lebih hangat dan mewah dari pada BlitzMegaPlex.

Terima kasih saya untuk persaingan pasar bebas yang membuat perusahaan-perusahaan lebih memperbaiki dan meningkatkan diri dalam segi produk dan jasa. Hanya di pasar bebas, produk dan jasa yang benar benar baik akan bertahan, hidup dan sejahtera. Terima kasih persaingan, terima kasih pasar bebas, selamat tinggal monopoli.