WanHart Blog

March 27, 2008

Adam Air. Air Crash Investigation.

Misteri Jatuhnya AdamAir di Majene Terjawab

Selasa, 25 Maret 2008 | 12:54 WIB

JAKARTA, SELASA – Terkuak sudah penyebab jatuhnya pesawat AdamAir jurusan Jakarta-Surabaya-Manado di perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 lalu. Awalnya, alat navigasi pesawat atau yang dikenal sebagai Internal Reference System (IRS) rusak. Kedua pilot terkonsentrasi memperbaiki kerusakan dan lupa memerhatikan instrumen yang lain. Mereka tidak menyadari pesawat miring dan turun mendekati laut. Mereka baru sadar dua menit sebelum pesawat pecah menabrak laut. Terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 hilang dan dianggap tewas.

Demikian hasil kesimpulan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang disampaikan kepada wartawan di Gedung Departemen Perhubungan, Jakarta, Selasa (25/3). Anggota KNKT Mardjono menerangkan, kerusakan IRS terjadi dalam 13 menit terakhir penerbangan, sebelum pesawat jatuh. Kerusakan ini mengalihkan perhatian kedua pilot dari flight instrumen.

Hasil rekaman Digital Flight Data Recorder (DFDR) menunjukkan, mulanya pesawat telah terbang dengan bantuan instrumen kemudi otomatis. Namun, penanganan terhadap IRS yang dilakukan tidak sesuai dengan panduan, sehingga kemudi otomatis pesawat menjadi tidak berfungsi. Pesawat pun mulai miring.

“Karena miringnya hanya satu derajat per detik, jadi tak terasa. Autopilot disconnect dan alarm berbunyi ‘Not..not..not’. Mereka sempat mematikan alarm tersebut karena terlalu fokus pada IRS. Ini biasa. Jadi tidak bisa dikatakan human error, hanya kinerjanya yang error. Kinerja sebagai manusia darat yang harus terbang. Kalau di darat, prosedur mereka sudah benar. Tapi berbeda halnya jika dia berada di udara,” terang Mardjono.

Sementara itu, Ketua KNKT Tatang Kurniadi menambahkan, setelah pesawat miring ke kanan melewati 35 derajat, alaram berbunyi. Pesawat terus miring hingga 100 derajat dan situasi sudah tidak bisa dikendalikan lagi. “Pesawat miring daya angkatnya memang kurang. Padahal dia (pilot) melakukan recover baru setelah hidung pesawat nunduk 60 derajat. Apalagi dengan kecepatan yang mach 0,926 kecepatan suara. Oleh karena itu, pecahan badan pesawat terbesar yang ditemukan hanya dua meter. Sebab saat menabrak laut itulah, pesawat terpecah,” jelasnya.(BOB)

Di sadur dari: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.25.12545960&channel=1&mn=1&idx=1

====

Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir (2)

Salah Satu Pesawat Boeing 737 milik AdamAir
Kamis, 27 Maret 2008 | 07:36 WIB

JAKARTA, KAMIS- Ada fakta-fakta baru mengenai jatuhnya pesawat AdamAir 1 Januari 2007 lalu, meskipun itu yang muncul dari luar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Pengamat transportasi Agus Pambagyo yang juga pernah mendengarkan isi cockpit voice recorder (CVR) saat mendatangi National Transportation Safety Board (NTSB/KNKT©nya Amerika Serikat) di AS tahun lalu mengatakan, apa yang diuraikan oleh Ketua KNKT Tatang Kurniadi, Selasa lalu benar adanya.

“Tapi ada kata-kata yang kurang dalam percakapan dua pilot. Setelah salah satu pilot mengatakan “jangan dibelokin, jangan dibelokin,” tiba-tiba ada suara seperti benda pecah, lalu seorang lagi berteriak “Allahu Akbar”. Lalu semuanya terdiam,” kata Agus Pambagyo dalam percakapannya dengan Persda Network di Jakarta, Rabu (26/3)

Agus mengaku tidak tahu siapa yang menyebut Allahu Akbar, tapi jelasnya, kata-kata itu sangat jelas terdengar dari VCR. Seperti diberitakan, KNKT memaparkan kecelakaan pesawat AdamAir bernomor penerbangan DHI 574 itu akibat kerusakan alat navigasi IRS (Internal Reference System). Kedua pilot memfokuskan pada perbaikan IRS dan lupa pada instrumen lain, sehingga tidak tahu pesawat Kedua pilot memfokuskan pada perbaikan IRS dan lupa pada instrumen lain, sehingga tidak tahu pesawat sedang menghujam ke laut.(Persda Network/Hendra Gunawan)

Di sadur dari: http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.27.07365264&channel=1&mn=1&idx=1